Terlebih dulu saya telah menuliskan begitu fenomenalnya Ahok di DKI Jakarta. Ahok yang buka layanan aduan warga DKI di Rumah Lembang disambut ketertarikan warga yang menginginkan mengemukakan aduan serta berfoto dengan Ahok. Hal yang sama yang dikerjakannya sebelumnya cuti di Balai Kota. Saksikan https :// seword. com/politik/fenomena-ahok-rumah-lembang-dibanjiri-warga-dki /.
Terkecuali fenomenal, AHok ini saya saksikan tidak sama langkah berkampanyenya dengan 2 paslon lain. Bila paslon lain menggunakan langkah berkampanye yang sama serta tak ada pergantian dengan gaya kampanye calon Kepala Daerah sebelum-sebelumnya, jadi Ahok memakai style kampanye yang tidak sama. Rumah Lembang yaitu satu diantara ketidaksamaannya serta yang paling aneh yaitu kampanye AHok yg tidak berikan serta menjanjikan duit, jadi mengambil duit rakyat. Edan memanglah Ahok ini.
“Saya tidak tahu jumlahnya telah berapakah, namun hingga tempo hari kami selalu kumpulkan. Jadi ada makan siang berbarengan serta makan malam berbarengan, ” kata Ahok, di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2016).
“Rata-rata mereka menyumbang bisa ada yang Rp 1 miliar, Rp 2 miliar. Ada pula yang Rp 500 juta juga saja sekali kumpul, ” kata Ahok.
Wow!! Benar-benar aneh Ahok ini. Lebih aneh lagi beberapa pendukung Ahok ini. Bukannya minta duit pada Ahok serta janji bakal memberi pertolongan dana segera saat jadi Gubernur, ini jadi berikan duit pada Ahok. Walau sebenarnya, duit yang mereka berikanlah itu akan tidak dikembalikan Ahok. Lantas kenapa mereka memberinya?? Pastlah bukanlah mengharapkan bisa dana segera, tetapi mengharapkan pertolongan itu direalisasikan jadi pembangunan Jakarta baru yang bersih dari koruptor, pungli, serta sungai-sungai kotor.
Lantas bagaimana dengan paslon lain?? Seperti umum, mereka menggoda warga dengan pertolongan dana segera.
Agus Harimurti seperti tak dapat terlepas dari bayang-bayang ayahnya, SBY. Hal semacam ini sudah pasti lantaran Agus belajar politik cuma dari SBY. Tak ada tokoh lain yang jadikan role jenis oleh Agus. Karenanya, tak heran kita bila lihat Agus berikan janji bakal menggelontorkan banyak dana segera untuk warga. Berikut janji pertolongan segera yang didapatkan Agus bila jadi Gubernur :
1. Dana bergulir 50 juta per unit usaha untuk 20 ribu unit usaha baru. Alokasi dana 1 triliyun.
2. BLS sebesar Rp5 juta per th. untuk kian lebih 128 ribu kepala keluarga. Alokasi dana sebesar Rp650 miliyar per th..
3. Pemberdayaan Komune 1 Milyar per RW. Alokasi dana kian lebih 2 Triliyun.
Lantas bagaimana dengan pasangan Anies – Sandiaga?? Mereka juga tidak ingin kalah serta berikan janji dana fresh untuk warga DKI. Tak lupa dengan juga program unggulan sang bekas Menteri Pendidikan serta Kebudayaan, Anies, KJP Plus (bukanlah plus-plus yah..). Tersebut janji dana mereka :
1. KJP Plus. Anggarannya belum diterangkan.
2. BLT sepanjang 6 bln.. Biaya belum terang.
3. Modal kerja berbasiskan Syariah. Biaya belum terang.
4. Tingkatkan kesejahteraan Pasukan Orange. Biaya belum terang.
Saya fikir ke depan 2 pasangan ini selalu menggaungkan program-program mereka yang bakal begitu memanjakan (bukanlah mensejahterakan) warga Jakarta. Hal yang tidak sama dengan dikerjakan Ahok. Ahok jadi memohon duit pada rakyat saat mengadakan jamuan makan siang serta makan malam. Kronis banget nih Cagub.
Masihlah menempel pada kita kalau politik duit yaitu senjata paling utama dalam kampanye politik. Memberi duit tunai untuk memperoleh duit tidaklah hal tabu dalam dunia politik kita. Bahkan juga, serangan fajar politik duit masihlah berlangsung hingga satu diantara pasangan yang mengerjakannya dapat menang di detik-detik paling akhir. Namun Ahok ini aneh menurut saya. Dia tak memberi duit sepanjang masa kampanye, jadi memohon duit dari rakyat.
Hal semacam ini benar-benar merubah langkah berpolitik yang umum diaplikasikan Indonesia. Dana gotong royong rakyat yang dilabeli “Kampanye Rakyat” jadi kemampuan intinya. Rakyat disuruh partisipatif dalam sistem Pilkada, tak aktif serta disuap dengan duit seperti umumnya. Hal semacam ini sesungguhnya tengah mendeskripsikan kalau rakyat yang memodali satu paslon memiliki hak mengkritik serta menagih janji paslon itu. Sedang yang suaranya telah dibeli serta digadai sesungguhnya tak miliki hak menuntut lagi, lantaran suaranya telah lunas dibayar.
Style politik Ahok ini bikin dianya jadi aneh serta tidak sama dengan paslon yang lain. Kontrak politik bukanlah lagi masalah kertas putih yang di tandatangani, tetapi juga satu ikatan pemodal (rakyat) pada paslon sebagai CEO-nya. Dalam rencana ini, paslon tak jadi atasan rakyat, tetapi jadi pegawai serta pelayan rakyat yang perlu bekerja serta melayani rakyat yang yaitu pemodalnya.
Jadi, rakyat Jakarta silakan pilih ingin jadi pemodal (dapat pertolongan 5 atau 10 ribu) untuk memodali satu diantara paslon serta memperjuangkannya untuk jadi kepala daerah. Atau pilih paslon yang ingin memberi duit 50 – 200 ribu untuk pilih mereka, namun akan tidak berasumsi kita lantaran telah membayar lunas hak kita. Anjuran saya, mari jadi pemilih cerdas serta partisipatif.
Salam Aneh.
