Saya lihat ada yang tidak sama dari seseorang Jokowi sebagai Presiden. Langkah-langkahnya sekian hari ini saya fikir begitu keras untuk seseorang Jokowi, hampir tanpa ada kompromi.
Menanggapi tindakan demo 4 November, Presiden Jokowi sukses bikin SBY bimbang berat, hingga curcol lewat info pers sama seperti waktu dianya dahulu jadi Presiden. Prihatin. Ini dikarenakan kehadiran Presiden ke Hambalang menjumpai Prabowo, namun tidak berlanjut ke Cikeas. Presiden cuma ingin menjumpai Prabowo. Dengan hal semacam ini, SBY lalu berlaku aktif dengan mendatangi JK serta Wiranto, tak tahu untuk argumen apa, pokoknya datang saja lantaran Jokowi telah mendatangi Prabowo.
SBY kelihatannya tidak ingin terpojok sendiri. Lantaran bila Prabowo telah menyebutkan mensupport Jokowi, jadi hanya satu tokoh partai politik yang sangat mungkin tak mensupport yaitu SBY. Karenanya dia menginginkan membuat opini umum kalau bila nanti berlangsung suatu hal yang negatif pada 4 November, jadi Wiranto serta JK dapat dipersepsikan ikut serta, sebab mereka orang-orangnya SBY.
Demikian halnya denan FPI, keras sekali sikap Presiden Jokowi. Sebelumnya demo, Presiden telah mengundang NU, Muhammadiyah serta MUI ke Istana. Pasca demo, Presiden mendatangi markas PBNU. Sesudahnya, 17 ormas Islam juga diundang ke Istana.
- Abdullah Jaidi, Al-Irsyad Al Islamiyah
- Yusnar Yusuf, Jami’atul Washliyah
- Ahmad Satoni Ismail, Ikadi
- Habib Nabil Al Musala, Majelis Rasulullah
- Hamdan Zoelva, Syarikat Islam
- Dyah Puspitarini, Nasyiatul Aisyiyah
- Said Aldi Alidirus, BKPRMI
- Khofifah Indar Parawansa, Muslimat NU
- Mahfud MD, KAHMI
- Sadeli Karim, Mathlaul Anwar
- Nashirul Haq, Hidayatullah
- Muhammad Siddiq, DDII
- Anggia Emarini, Fatayat NU
- Jimly Asshidiqie, ICMI (diwakilkan)
- Athifah Thaha, Wanita Islam
- Yaqut Qolil Qoumas, PP GP Anshor
- Usamah Hisyam, Parmusi
Semua di ajak diskusi berkaitan demo 4 November yang melibatkan pengeraha massa. Namun FPI yang disebut ormas paling depan menampik Ahok mulai sejak 2014, dan orams paling depan dalam lakukan provokasi pada demo 4 November, tak diundang atau didatangi.
Sikap Presiden Jokowi pada SBY serta FPI sama, tidak ingin mendatangi serta berkomunikasi. Pertanyaannya lalu, ada permasalahan apa dengan SBY serta FPI? Sebagai warga, lumrah saya ajukan pertanyaan. Sebab FPI dapat disebutkan yaitu ormas paling ikut serta dalam demo 4 November. Sesaat SBY yaitu hanya satu gerbong politik tersisa, sebab Prabowo telah didatangi.
Saya merenung cukup lama. Sesudah dipikir-pikiri, memanglah ada permasalahan yang cukup prinsip dengan FPI serta SBY. Rizieq meneror bakal menempati Istana serta gedung DPR. Munarman dengan terang menyampaikan Presiden Jokowi dongo. Logika simpel saja, bila kalian dicaci maki seperti itu, masihkah bakal mengajaknya makan siang serta bercakap enjoy dirumah?
Namun bagaimana dengan SBY? Tidakkah beliau ini sosok yang santun, penuh prihatin, rajin menabung serta tak sukai mencaci maki? Mengapa Presiden tidak ingin menemuinya untuk menyelsaikan permasalahan peluang ada kebutuhan politik dalam demo 4 November? Saya fikir ada banyak hal. SBY ini sosok sekurang-kurangnya menarik, sebab kebutuhan politiknya begitu tinggi. Contoh, waktu SBY lakukan tur de Java, dia bukannya menyerap masukan, namun jadi curcol serta mengkritik pemerintahan Jokowi pada rakyat. Jadinya jadi mengemukakan masukan. Kebutuhan politiknya yaitu memajukan Ani sebagai Capres 2019.
Tetapi Presiden Jokowi waktu itu menjawabnya dengan blusukan ke Hambalang. Jadilah narasi tur de Java satu bulan rusak dikarenakan blusukan serta geleng-geleng di Hambalang. Ini bikin semuanya kritikan SBY pada Presiden Jokowi jadi tidak ada berarti. Sebab rakyat jadi tau begitu buruknya SBY dahulu. Bila saat ini lalu ingin mengkritik, jadi lucu, sebab dahulu hampir tidak lakukan apa-apa terkecuali bikin album serta menulis buku diary. Masalah ini pernah saya ulas spesial di seword : https :// seword. com/politik/sby-menggonggong-jokowi-ke-hambalang/
Masalah demo 4 November, memanglah ada laporan mengenai keterlibatan SBY. Tetapi awalannya laporan berbentuk dokumen itu berbentuk tertutup, rahasia. Tak tahu bagaimana langkahnya SBY lalu membukanya ke umum serta menceritakannya dalam info pers. Kalau dia tak bersalah, kalau dokumen itu tak akurat, tentu fitnah bila ada partai politik yang mendanai demo 4 November.
Info pers SBY ini jadi blunder paling lucu selama histori politik di Indonesia. Pikirkan, dokumen itu awalannya berbentuk rahasia, bukanlah untuk mengkonsumsi umum. Namun SBY membukanya serta menyanggah seakan-akan semuanya rakyat sudah mengetahui. Blundernya yaitu, SBY menyebutkan tak ada partai politik yang mendanai demo 4 November. Bagaimana dapat SBY memastikannya? Tidakkah dia cuma satu diantara ketum Parpol? Ini keadaannya jadi serupa ada bau kentut, beberapa orang lalu melirik kanan kiri sembari tutup hidung, lantas mendadak satu diantara orang dalam ruang berdiri serta katakan “tidak ada bau kentut, fitnah itu! ” tidakkah ini bermakna pernyataan?
Lebih jelek lagi, pasca 4 November, Demokrat jadi hanya satu partai yang paling berisik sesudah Presiden Jokowi menyebutkan demonstrasi itu ditunggangi aktor-aktor politik. Hingga lalu berlangsung kerusuhan serta penjarahan, skenario mengulangi rusuh 98. Hingga disini, jadi ketahuan kan siapa yang kentut? Haha
Masalah dokumen itu pernah saya ulas juga di : https :// seword. com/politik/dokumen-rahasia-keterlibatan-cikeas-dalam-upaya-lengserkan-jokowi/
Tak tahu siapa yang menebarkan, saat ini dokumen yang ada di tangan saya itu telah beredar banyak luas didunia maya. Dalam dokumen itu pasti telah dijelaskan beberapa nama dengan cara gamblang, tanpa ada inisial maupun sebutan.
Lambang Politik
Presiden Jokowi memanglah sering memberi simbo-simbol politik untuk menjawab beberapa gosip terbaru. Waktu masalah Freeport Ayah Minta Saham, di DPR ada sidang MKD, di Istana Presiden mengundang pelawak nasional untuk makan malam. Ketika yang berbarengan. SBY ceriwis masalah pemerintah serta blusukan ke semua Jawa, Jokowi cuma cukup datang ke Hambalang.
Lantas saat ini, FPI serta SBY tak disikapi, walau sebenarnya Prabowo serta PBNU didatangi. NU, Muhammadiyah, MUI bahkan juga 17 ormas Islam yang lain juga diundang ke Istana. Semua yaitu lambang politik yang mengatakan kalau FPI bukanlah sisi dari ormas Islam di Indonesia. Sesaat SBY adalah tokoh politik yg tidak mensupport pemerintahan Jokowi. Serta yang terutama dalam rangkuman saya yaitu, keduanya yaitu biang kerok kerusuhan serta menghalangi perkembangan bangsa Indonesia.
Terlebih tempo hari Presiden mendatangi markas Kopassus.
Ini yaitu pasukan cadangan yang dapat saya gerakkan sebagai panglima paling tinggi melalui Pangab, melalui Panglima TNI untuk kepentingan spesial, ” kata Jokowi.
“Ini adalah pasukan cadangan yang dalam kondisi emergency, dalam kondisi darurat, dapat saya gerakkan, ” tuturnya lagi.
Orang dapat memikirkan ini kebetulan, sekebetulan Jokowi yang datang ke Hambalang waktu SBY berisik atau sekebetulan FPI yang tidak diundang ke Istana. Namun untuk saya ini lambang politik yang begitu kuat, Presiden Jokowi seakan menginginkan menjawab usaha makar yang dikerjakan oleh Fahri Hamzah sekian hari lantas. Fahri pernah menyebutkan kalau massa bisa masuk ke DPR serta bermalam sebab waktu itu yaitu keadaan darurat, tidak butuh surat dsb. Saat ini Presiden telah menjawab dengan keyword yang sama “darurat. ”
Melawan FPI serta SBY
Sebelumnya menulis ini, pernah saya hubungi informan seword berkaitan sikap Presiden. Saya titip pertanyaan apakah Presiden ingin mendatangi atau mengundang SBY serta FPI. Tak tahu telah di tanyakan apa belum, tetapi informan seword menyebutkan peluangnya cuma 1%. Hampir mustahil.
Bila memanglah selalu begini, jadi bermakna semuanya yaitu lambang perlawanan. Yang pada dasarnya, peluang Rizieq, Munarman serta FPI bakal memperoleh balasan sikap. Rizieq peluang bakal diolah hukum berkaitan usaha makar serta cemoohnya. Munarman mungkin saja juga diolah berkaitan caci makinya. Sesaat SBY bakal memperoleh apa yang semestinya dia peroleh mulai sejak satu tahun lebih waktu lalu.
Ibas yang berulang-kali dimaksud ikut serta korupsi, mungkin saja telah waktunya diolah. 34 proyek mangkrak diusut, mungkin selanjutnya hingga pada beberapa orang SBY. Sesaat SBY sendiri dapat dipermasalahkan lantaran sudah menyingkirkan dokumen TPF pembunuhan Munir.
Saya fikir itu sikap keras yang tengah diperlihatkan oleh Presiden Jokowi. Begitu keras. Bila seperti orang ingin perang, lawannya tengah gembar-gembor, Jokowi diam saja sembari mengasah pedang. Tidak banyak bicara, tidak ada suara tinggi. Namun sesudah pedangnya usai diasah, mereka yang gembar-gembor tidak bakal dapat berdiri lagi.
Demikianlah kura-kura.
