SURAT TERBUKA SEORANG USTADZ UNTUK PRESIDEN JOKOWI :' {{{ LIHAT KETERANGAN DI BAWAH INI }}}
SURAT TERBUKA SEORANG USTADZ UNTUK PRESIDEN JOKOWI :' {{{ LIHAT KETERANGAN DI BAWAH INI }}}







Tulisan netizen bernama Ustadz Rudi Wahyudi sekian hari paling akhir jadi bahan perbincangan dikalangan umum berkaitan uneg-unegnya lihat keadaan kekinian yang berlangsung di Indonesia.

Dalam tulisanya yang singkat itu Ustadz Rudi menyinggung manuver politik Presiden Joko Widodo berkaitan masalah penistaan agama yang dikerjakan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Pantauan Islamedia, kamis (10/11/2016), tulisan Ustadz Rudi sudah menyebar dengan cara luas di beberapa komune Whatsapp Grup serta Social Media.

Di bawah ini tulisan komplit Ustadz Rudi Wahyudi yang diperuntukkan pada Presiden Joko Widodo.

Berapakah kali presiden menyampaikan tidak bakal membuat perlindungan Ahok? Berkali-kali, makin diulang malah makin turun kwalitas kebenaran kalimat itu.

Berbalik dengan ucapannya, beberapa langkah politik Jokowi malah berkesan tengah membuat perlindungan Ahok mati-matian.

Jokowi sowan kesana ke mari namun tidak satu juga dari pimpinan tindakan di ajak bicara. Presiden berupaya mengisolasi beberapa pimpinan tindakan serta bikin opini kalau mereka bukanlah sisi besar ummat Islam serta kalau tindakan 411 tidaklah tindakan ummat namun cuma tindakan sekumpulan orang. Presiden tengah memecah, membelah bambu. Satu segi diinjak, satu sisi lagi diangkat.

Namun presiden lupa, yang tengah dihadapinnya beberapa ulama, mereka bukanlah beberapa orang yang pemula, mereka memahami sekali apakah itu politik. Bahkan juga Gus Sholah, cucu Kyai Hasyim Asy'ari, mengkritik langkah presiden " buat apa Pak Jokowi berterima kasih pada NU, NU bukanlah penggerak tindakan. Bila ingin terima kasih, berterima kasih lah pada pimpinan2 tindakan yang bikin tindakan jadi damai, " kurang lebih demikian.

Akan tidak gampang untuk Jokowi mengkooptasi beberapa ulama, sebab beberapa ulama itu tidaklah beberapa kumpulan mahasiswa-mahasiswa yang dahulu dia ajak makan lantas dengan itu saja mereka senang serta berselfie ria. Dapat dibuktikan, matahari serta bumi (sebutan untuk Muhammadiah serta NU) tidak ingin dikooptasi penguasa serta lebih pilih sikap yang sesuai dengan perasaan ummat : tegakkan keadilan, penuhi rasa keadilan orang-orang. Mereka ketahui, walaupun mereka tidak memimpin tindakan, yang turun di lapangan beberapa besar yaitu ummat mereka semuanya. Jokowi tidak berhasil memeluk bumi, tidak berhasil juga memanah matahari.

Di lain pihak, polisi menyebar teror dengan penangkapan-penangkapan serta menyebar tuduhan makar. Setali tiga duit, pernyataan kapolri di banyak media tak tunjukkan sikap netral sebagai penegak hukum, malah semakin banyak yang menilainya pernyataan kapolri serupa sebagai pengacara Ahok. Politik pembelaan pemerintah begitu telanjang, vulgar, serta gampang di baca siapapun bahkan juga oleh yang pemula sekali juga.

Pak presiden, mengulang-ulang janji akan tidak bikin orang makin yakin apabila bukti-bukti tunjukkan demikian sebaliknya.

Stop pecah iris ulama, sebab ulama bukanlah politisi yang gampang dipecah iris oleh anda serta grup anda seperti berlangsung sampai kini.

Ulama pewaris beberapa nabi serta janganlah samakan dengan pasukan nasi bungkus, itu penghinaan sekali. Makin anda bermain-main, makin tinggi eskalasi kemarahan ummat serta itu sama juga membuat lubang kejatuhan anda sendiri.